Hujan Turun Bak Dewa Penyegar di Tengah Negeriku yang Ambyarr
Semarang - “Hore.... udan
cok..” teriakku kepada teman se-kosan. Tentu bukan omongan kasar,
karena memang ungkapan seperti itu dianggap biasa dan menjadi sebuah
lambang keakraban. Lalu, juga bukan ungkapan mengolok-olok hujan yang
malam ini tepat pukul 8 malam turun di desa Sekaran, Gunungpati.
Bagi anak rantau
yang berasal dari daerah cukup dingin, hujan pada bulan dan tahun ini
di daerah yang tiap harinya membuat gerah rasanya sangat istimewa.
Ya, kehadirannya seperti dewa pembawa kesegaran yang tiada duanya.
“Donga udan
pertama kali turun piye cok”, tanya temanku kepadaku. Karena aku
bukanlah anak berlatarbelakang santri, kadang doa se-umum itu terasa
asing. Ya, aku mengakui itu, sebab akan sangat bahaya kalau aku salah
ucap doa dan ngasal. Tadinya ingin meminta keberkahan atas hujan,
malah doa masuk WC, kan berabe!
Akhirnya, aku
memutuskan untuk browsing! Terasa aneh sih dalam batin, mahasiswa kok
doa gini aja nggak bisa. Tapi, perang batin itu tetap membuat tangan
dan jariku mengetikkan di mesin pencarian tentang lafal doa turun
hujan pertama. Ketika laman sudah terbuka langsung saja aku bersama
teman kosan mengucapkannya.
Hujan pertama kali
ini terasa istimewa untukku karena rasanya hadir setelah musim
kemarau yang sangat panjang. Kalau di kampung halamanku, pukul 2
siang suhu terasa cukup adem. Tapi, kalau di Sekaran, Gunungpati,
saking panas cuacanya, tembok kos-an terasa anget. Serius!
Karena terasa
istimewa, aku memaksakan diri untuk melihat hujan tanpa penghalang
alias di emperan kos. Ketika membuka pintu, ternyata air hujan turun
dengan kemiringan kurang lebih 45 derajat dan masuk ke emperan.
Sontak aku menutup pintu karena takut kebasahan. Batinku kembali
bergeming, hujan katanya rahmat, kenapa takut kena air hujan? Kenapa
pula nyari tempat berteduh ketika turun hujan?
Layaknya kaum
milenial, apa-apa harus dipublikasikan, langsung kuambil ponsel dan
merekam hujan itu. Melalui sela-sela pintu yang terbuka sedikit,
kurekam hujan penyegar itu selama beberapa detik dan langsung ku
jadikan story whatsapp dengan caption alhamdulillah! Allay ya? Wkwkw.
Hujan Turun! Semoga Isu Gorengan Segera Ditiriskan
Yah, rasanya hujan
malam ini menimbulkan beberapa gejolak dalam otakku dan menggelitik
jemari untuk mengaitkannya dengan kondisi negeriku. Kondisi negeriku?
Kalau kita menggunakan kata “kondisi”, kok bayangannya negeri ini
sedang darurat setelah tertimpa sesuatu yang buruk!
Bukan hanya cuaca
yang panas, hari-hari ku beberapa bulan terakhir diwarnai dengan
isu-isu pemanas batin. Tapi sebagai orang yang bertelinga ‘cukup
tebal’ kadang sebuah isu yang sering jadi bahan omongan teman
terasa nonsense buatku.
Sebut
saja revisi UU KPK, UU KUHP, demo mahasiswa, kasus wamena, kasus
penusukan Menkopolhukam, dan
kasus buku merah ramai diperbincangkan
publik. Melalui media digital, pendistribusian informasi menjadi
sangat cepat. Ya, apa hanya aku saja yang merasa bahwa, aku adalah
pangsa pasar bagi media-media ini? Ibarat
ikan yang lapar akan pelet setiap hari!
Isu
nasional yang membanggakan, menyegarkan dan mengoptimiskan kaum
muda saat ini kunilai
sangat minim peminat! Apa ini yang jadi penyebab media-media online
semakin menjamur mengangkat isu-isu genting? Demi
sebuah trending dan rating?
Negeri
ini terasa ambyarr bagiku, hanya
karena porsi berita ‘angin segar’ sangat minim ditemukan! Tapi,
hujan malam ini aku nyatakan seperti dewa pembawa kesegaran
ditengah negeriku yang hampir
mencapai titik didihnya. Hujan
malam ini bukan hanya satu dewa, tapi ratusan dewa yang turun untuk
mengademkan bumi pertiwi.
Ketika
menulis ini, aku membayangkan bahwa ada keajaiban
yang membuat negeri ini
berjalan normal dan dingin. Bukan hanya kehadiran ‘Presiden’
super wow, pro rakyat!, bukan hanya kehadiran ‘DPR’ kualitas
super, bukan hanya kehadiran ‘Penceramah’ yang benar-benar
mencerahkan, lantas negeri
ini bisa “baik-baik saja”. Tapi,
hujan kali ini semoga menjadi simbol kehadiran seluruh elemen
pendukung kestabilan nasional. Rakyat!
Budaya! Sosial! Ekonomi! Pendidikan! Politik! Pejabat! Pengajar!
Semuanya! Harus bisa membuat negeri ini se-segar hujan malam ini. Aku
masih opotimis!
Thanks,
Baca Juga
LATEST
Lebih lama

Posting Komentar
Posting Komentar